Tags

CARA MELAFAZHKAN ISTI‘AADZAH DAN TEMPATNYA

Oleh
Ahmad bin Salim Ba Duwailan

Ahmad berkata dalam riwayat Hanbal, “Seseorang harus beristi‘aadzah (sebelum membaca al-Qur-an,-pent.) baik di luar shalat ataupun di dalam keadaan shalat, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca al-Qur-an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” [An-Nahl/16: 98]

Dalam riwayat Ibnu Masyisy, Ahmad mengatakan, “Setiap kali akan membaca hendaklah beristi‘aadzah.”

‘Abdullah bin Ahmad berkata, “Aku pernah mendengar bapak-ku apabila hendak membaca al-Qur-an dia beristi‘aadzah. Ia mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”

Dalam al-Musnad dan menurut at-Tirmidzi dari hadits Abu Sa‘id al-Khudri ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengerjakan shalat, beliau membaca do’a istiftah, lalu mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْـمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْـمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ.

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari kesombongan, kegilaan, tiupan, (bisikan) syaitan yang terkutuk.”[1]

Ibnul Mundzir berkata, “Terdapat keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau sebelum membaca al-Qur-an, beliau membaca isti‘aadzah: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. Kemudian asy-Syafi’i, Abu Hanifah, dan al-Qodhi dalam kitabnya al-Jaami’ lebih memilih untuk mengucapkan: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ahmad, karena melihat dari zhahir ayat dan hadits Ibnul Mundzir. Sedangkan menurut Ahmad dari riwayat ‘Abdullah: أَعُوْذُ بِاللهِ مِـنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْـمِ Yaitu berdasarkan pada hadits Abu Sa‘id al-Khudri. Dan ini merupakan madzhabnya al-Hasan dan Ibnu Sirin. Yang menunjukkan kepada hal tersebut adalah, apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kisah al-ifki, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk lalu mengusap wajahnya seraya mengatakan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.”

Masih menurut Ahmad, dalam riwayatnya yang lain, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ. Pendapat ini diikuti oleh Sufyan ats-Tsauri dan Muslim bin Yasar. Sekaligus menjadi pilihan al-Qadhi dalam al-Mujarrad dan Ibnu ‘Aqil. Karena pendapat ini bersandar kepada firman Allah:

فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم ِ

Yang mana zhahir dari ayat ini adalah beristi‘aadzah dengan ucapan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Sedangkan firman Allah dalam ayat lain yang berbunyi:

فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“…Maka mintalah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Fushshilat/41: 36]

Adalah mengharuskan untuk dianggap sebagai isti‘aadzah, dan penyifatannya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, ada dalam kalimat tersendiri yang berdiri sendiri, yang dikuatkan dengan adanya huruf ( إِنَّ ), karena Allah sendiri yang menyebutkannya demikian. Ishaq berkata, “Yang dipilihnya adalah sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْـمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syaitan yang terkutuk dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlak).”[2]

Di dalam hadits tersebut terdapat keterangan mengenai tafsir do’a itu dengan: هَمْزِهِ adalah: Kerasukan, وَنَفْثِهِ adalah sya’ir lagu, dan وَنَفْخِهِ adalah: Kesombongan.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ﴿٩٧﴾ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

“Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.’” [Al-Mu’minuun/23 : 97-98]

اَلْهَمَزَاتُ (godaan-godaan) merupakan bentuk jamak dari هَمْزَةٌ seperti lafadz تَمْرَةٌ (kurma) yang bentuk jamaknya adalah تَمَرَاتٌ . Asal makna اَلْهَمْزُ adalah dorongan.

Berkata Abu ‘Ubaid dari al-Kisa-i: هَمَزْتُهُ وَلَمَزْتُهُ وَلَهَزْتُهُ وَنَهَزْتُهُ artinya adalah دَفَعْتُهُ, yaitu apabila saya memberikan dorongan. Secara kenyataannya, adalah mendorongnya dengan memukul, dan menikamnya, yang merupakan dorongan khusus. Maka hamazaatusy syaithaan adalah dorongan rasa waswas kepada mereka dan menyesatkan hati. Ibnu ‘Abbas dan al-Hasan berkata, “hamazaatusy syayaathiin adalah bujukan dan rayuannya.” Dan kalimat tersebut ditafsirkan dengan kata berikut, yaitu: نَفْخٌ dan نَفْثٌ , menurut Mujahid. Dan juga ditafsirkan dengan cekikan, yaitu semacam penyakit kerasukan yang menyerupai kegilaan.

Dilihat dari zhahir hadits, bahwa اَلْهَـمْزُ itu bukan bagian dari نَفْـخٌ dan نَفْثٌ. Dikatakan, -dan ini pendapat yang paling jelas,- sesungguhnya lafazh hamazaatusy syayaathiin apabila peletakkannya disendirikan maka termasuk di dalamnya adalah semua akibat-akibat dari syaitan yang menimpa anak Adam. Dan bila disandingkan dengan اَلنَّفْخُ dan اَلنَّفْثُ, maka menjadi jenis khusus, semisal dengan yang sudah disebutkan itu.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.” [Al-Mu’-minuun/23: 98]

Berkata Ibnu Zaid, “Yaitu, (hadir terhadap) urusan-urusanku.” Sedangkan al-Kalbi mengatakan, “(Yaitu) ketika membaca al-Qur-an.” ‘Ikrimah berkata, “Ketika sakaratul maut.” Dan konteksnya, memerintahkan agar meminta perlindungan (beristi‘aadzah) dari dua model keburukan syaitan, yaitu sesuatu yang bisa menimpa mereka dengan godaannya serta dekatnya mereka dari itu.

Maka isti‘aadzah itu mengandung cakupan, agar (syaitan) tidak menyentuhnya dan mendekatinya. Hal itu disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebuah ayat:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” [Al-Mu’-minuun/23: 96]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan agar berjaga-jaga dari kejelekan syaitan-syaitan yang berbangsa manusia dengan jalan menahan kejahatan mereka dengan cara yang baik. Juga agar berjaga dari kejelekan syaitan-syaitan yang berbangsa jin dengan beristi‘aadzah dari mereka. Di antaranya terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf/7: 199]

Ayat di atas menunjukkan, bahwa Allah telah memerintahkan untuk menolak kejahatan orang-orang bodoh dengan cara berpaling dari mereka, sedangkan terhadap kejelekan syaitan diperintahkan untuk beristi‘aadzah darinya. Allah Ta‘aala berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-A’raaf/7: 200]

Juga firman Allah yang semakna dengan ayat itu:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara-mu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” [Fushshilat/41: 34]

Ayat tersebut adalah untuk menolak kejahatan syaitan-syaitan dari golongan manusia. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Fushshilat/41: 36]

Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan: إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْـمُ, kalimat tersebut diperkuat dengan huruf ta’kid (huruf penguat yang bermakna sesungguhnya), yaitu إنَّ, juga dengan dhamir al-fashl (kata ganti yang terpisah), yaitu هُوَ , setelah itu dengan tanda ta’rif (alif-lam) dalam اَلسَّمِيْعُ الْعَـلِيْـمُ. Sedangkan dalam surat al-A’raaf Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tanpa alif-lam, yaitu إِنَّهُ سَمِيْعُ عَلِيْـمٌ.

Rahasia dari itu semua, -wallahu a’lam,- bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menyingkat nama-Nya saja dan tidak menta’kidnya (memperkuatnya dengan alif-lam,-terj.). Ini dimaksudkan untuk menetapkan sifat yang telah mencukupi dalam isti‘aadzah dan sebagai pengabaran bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengarnya (do’a tersebut) dan menolaknya (syaitan) darimu. Maka, kalimat Allah Maha Mendengar, yaitu terhadap ucapan orang yang minta perlindungan, sedangkan kalimat Maha Mengetahui, yaitu terhadap perbuatan para pengganggunya. Oleh karena itu, tercapailah maksud isti‘aadzah.

Makna tersebut adalah mencakup pada dua ayat. Dan lebih di khususkan lagi yang terdapat pada ayat tersebut dalam surat Fushshilat, yaitu dengan penambahan ta’kid, ta’rif (alif-lam) dan takhshish (pengkhususan). Karena kontek ayat itu datang setelah Allah mengingkari orang-orang yang ragu terhadap sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mendengar. Hal tersebut berdasarkan perkataan mereka dan pengetahuan Allah terhadap mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Shahiihain (Shahiih Bukhari dan Shahiih Muslim) dari hadits Ibnu Mas‘ud, ia mengatakan, “Ada tiga orang yang berkumpul dalam satu rumah, yaitu dua orang dari suku Quraisy dan satu orang dari Bangsa Tsaqafi, atau dua orang dari Tsaqafi dan satu orang dari Quraisy. Perut mereka semua penuh dengan lemak (gemuk), dan hati mereka sedikit pengetahuannya. Salah satu dari mereka bertanya, ‘Bagaimana pendapat kalian, apakah Allah mendengar terhadap yang kita bicarakan?’ Dijawab oleh yang lainnya, ‘Allah akan mendengar kalau kita keraskan, dan Dia tidak akan mendengar kalau kita pelankan.’ Yang satunya lagi menjawab, ‘Kalau Allah mendengar sebagiannya saja, maka Dia akan mendengar semuanya.’ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ﴿٢٢﴾وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

‘Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabb-mu, prasangka itu telah membinasakanmu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” [Fushshilat/41: 22-23]

Maka datanglah ta’kid (penegasan), yaitu dalam firman Allah إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ dengan tujuan pengingkaran (terhadap sangkaan mereka,-ed.). Maksudnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang memiliki kekuatan yang paling sempurna dalam mendengar dan dalam ilmu-Nya yang meliputi (segala sesuatu, -pent.), tidak sebagaimana yang di duga oleh musuh-musuh-Nya yang bodoh itu, yaitu bahwa Allah tidak mendengar jika mereka bersuara pelan dan Allah tidak tahu banyak segala perbuatan yang mereka lakukan. Hal tersebut lebih sempurna lagi, yaitu bahwa orang yang diperintah dalam surat Fushshilat ini menolak kejelekan mereka terhadapnya dengan melakukan perbuatan baik kepada mereka. Dan hal itu lebih sulit bagi hati dari hanya menghindari/berpaling dari mereka. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkannya dengan firman-Nya:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” [Fushshilat/41: 35]

Maka ta’kid di sini menjadi tepat dikarenakan kondisi kebutuhan orang yang minta perlindungan.

Juga karena konteks ayat tersebut untuk menetapkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dalil-dalil penetapan-Nya, ayat-ayat rububiyah-Nya, dan bukti-bukti ketauhidan-Nya. Oleh karenanya, ayat tersebut dilanjutkan dengan:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang… .” [Fushshilat/41: 37]

Dan disebutkan pula pada ayat yang lain,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus,… .” [Fushshilat/41: 39]

Maka tanda ta’rif (alif-lam) datang, untuk menunjukkan bahwa di antara nama-nama-Nya adalah اَلسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, sebagaimana pula Asmaul Husna Allah seluruhnya menggunakan tanda ta’rif (alif-lam). Sedangkan yang terdapat pada surat al-A’raaf, konteks ayat tersebut adalah mengenai ancaman kepada orang-orang musyrik dan sekutu mereka dari kalangan syaitan. Dan Allah menjanjikan kepada orang yang minta perlindungan, bahwasanya ia memiliki Rabb Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Adapun tuhan-tuhannya orang musyrik, -yang dijadikan sesembahan oleh mereka selain Allah itu,- mereka tidak memiliki mata yang bisa melihat, dan tidak juga telinga yang bisa mendengar. Maka Allah, Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamengetahui, adapun tuhan-tuhan mereka itu tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak bisa mengetahui. Bagaimana bisa mereka menyamakan tuhan-tuhan ini dengan Allah dalam masalah ibadah. Dari sini, maka dapatlah engkau ketahui bahwa tidak cocok dalam konteks ayat ini selain dengan bentuk tankir (tanpa alif-lam), sebagaimana juga tidak pas pada tempat lain selain menggunakan ta’rif (tanda alif-lam). Akhirnya, hanya Allah sajalah yang paling mengetahui rahasia ucapan-Nya.

Pada keadaan di mana yang diminta perlindungan itu, -sebagaimana yang disebutkan dalam surat Ghafir (al-Mu’min),- adalah berasal dari kejelekannya orang-orang kafir dalam mendebat ayat-ayat Allah, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang bisa dilihat dengan penglihatan, maka Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan (keinginan akan) kebesaran, yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” [Al-Mu’min/40: 56]

Jadi, pada keadaan di mana yang diminta perlindungan itu berupa perkataan dan perbuatan mereka yang bisa disaksikan secara jelas oleh mata, maka Allah berfirman: إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. Tetapi, selain itu, ada juga sesuatu yang dimintai perlindungan darinya, tetapi yang tidak bisa disaksikan dan dilihat oleh kita, tapi dia dan kelompoknya bisa melihat kita. Hal tersebut hanyalah bisa diketahui melalui iman dan berita dari Allah dan Rasul-Nya.

[Disalin dari Kitab Kaifa Tatakhallashu Minal Waswasati wa Makaayidisy Syaithaan Penulis Ahmad bin Salim Ba Duwailan, Judul dalam Bahasa Indonesia Bagaimana Terbebas Dari Waswas Penerjemah Nafi’, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Muharram 1426 H – Februari 2005 M]
_______
Footnote
[1]. Musnad al-Imam Ahmad (1/403), at-Tirmidzi (no. 242) dan Abu Dawud (no. 775) Sebagaimana dikeluarkan oleh an-Nasa-i dan Ibnu Majah.
[2]. Musnad al-Imam Ahmad (1/403), at-Tirmidzi (no. 242), Abu Dawud (no. 775) Sebagaimana dikeluarkan oleh an-Nasa-i dan Ibnu Majah.

Sumber Disini

Advertisements