Tags

EFEK DAN PENGARUH AMARAH

Oleh
Khumais as-Sa‘id

Amarah memiliki pengaruh-pengaruh yang sangat membahayakan dan kesudahan yang menghancurkan bagi pengemban dakwah, juga bagi kegiatan amal Islami, dan berikut ini adalah sebagian dari efek dan akibat tersebut, di antaranya:

Bagi Para Pengemban Dakwah
Efek amarah terhadap pengemban dakwah adalah:
1. Membahayakan tubuh.
Yang demikian itu bahwasanya amarah timbul dari darah yang naik dalam jantung, lalu terpancar dengan cepat ke seluruh badan sehingga nampak pada wajah dan mata yang memerah. Jika hal itu terus terulang akan menimbulkan tekanan darah pada sebagian besar kondisinya, dan mungkin saja terjadi pengerasan pembuluh darah, lalu ia menjadi lumpuh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita darinya. Demikianlah akhir amarah bagi tubuh yang membawa kepada keburukan.

2. Kurang Agama.
Amarah terkadang membawa pelakunya kepada ghibah (membicarakan aib orang lain), dan mungkin juga bisa sampai mencaci maki kehormatannya, merampas hartanya dan menumpahkan darahnya. Semua itu merupakan perbuatan dosa dan sebagai tanda kurangnya agama padanya.

3. Tidak Ada Kemampuan Untuk Mengendalikan Diri.
Pada saat marah, akal menjadi sesuatu yang tidak berfungsi seperti sesuatu yang terhalang dan tertutup. Dan jika akal telah terhalang atau tertutup, maka manusia akan menjadi tidak mampu mengendalikan dirinya, dan saat itu akan muncul darinya akibat yang tidak terpuji dan menyebabkan penyesalan, namun hal itu terjadisetelah kejadian tersebut.

Sulaiman bin Dawud berkata: “Hati-hatilah engkau dari banyak marah, karena sesungguhnya banyak marah membuat hati seorang yang pemurah itu akan diremehkan.”

Dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya dahulu ada seorang pendeta berada di tempat ibadahnya, lalu syaitan ingin menyesatkannya namun ia tidak mampu, kemudian ia datang kepada pendeta tersebut seraya memanggilnya, syaitan berkata padanya, “Bukalah.” Ia pun tidak menjawabnya. Lalu syaitan kembali berkata, “Bukalah, karena jika aku pergi, kau akan menyesal.” Namun ia tidak menoleh kepadanya. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Lalu syaitan pergi.” Maka pendeta tersebut berkata, “Tidakkah kau mendengar?” Ia menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku akhlak manusia yang dapat membantu syaitan menggoda mereka.” Ia berkata, “Marah, sesungguhnya apabila seseorang sedang marah, kami memainkannya seperti seorang anak yang memainkan sebuah bola.”

Sebagian orang berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, akal tidak akan tenang saat marah, seperti halnya ruh orang yang hidup tidak akan tenang dalam tungku yang meluap-luap, maka orang yang paling sedikit marah adalah orang yang paling berakal. Apabila marahnya demi dunia, maka menjadi sebuah kelicikan dan tipu daya, dan apabila marahnya demi akhirat, maka menjadi kemurahan hati dan pengetahuan, sesungguhnya dikatakan: ‘Amarah adalah musuh akal, dan amarah adalah bencana bagi akal.’”

4. Jatuh Kedalam Kehinaan.
Bahwasanya orang yang marah akan mendapatkan amarah terhadap apa yang ia tidak ketahui dan tidak ia sadari, hal ini akan menjatuhkannya ke dalam kehinaan.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang melakukan setiap perbuatan yang mengakibatkan (pelakunya) tergelincir ke dalam kehinaan, dengan sabdanya:

(( إِيَّاكَ وَكُلَّ مَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ ))

“Hati-hatilah engkau dari setiap apa yang dimintai alasannya.”[1]

Sebagian orang berkata: “Hati-hatilah dengan amarah, karena sesungguhnya dia akan membawamu kepada kehinaan.”

5. Siksa Yang Pedih.
Amarah itu banyak menyebabkan kesalahan dan juga menyebabkan terjatuhnya kita terhadap berbagai macam maksiat dan keburukan. Hal ini akan mengakibatkan siksa yang pedih di akhirat kelak atau di dunia dan di akhirat sekaligus. Mahabenar Allah ketika berfirman:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabb-nya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat.” [Al-Jinn/72: 17]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” [Thaaha/20: 124)

Benarlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, di mana ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu bertanya kepada beliau:

(( مَا يُنْقِذُنِيْ مِنْ غَضَبِ اللهِ ؟ قَالَ: (( لاَ تَغْضَبْ ))

“(Amalan) apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah.”[2]

Terhadap Kegiatan Amal Islami
Adapun pengaruh amarah terhadap kegiatan amal Islami di antaranya:
1. Sedikit Mendapatkan Penolong Dan Pelindung.
Sesungguhnya jiwa itu membentuk orang yang berakal lagi tekun dan bijaksana dalam tindak tanduknya, menerima dan melihat masyarakat sekitarnya, menolong dan melindunginya dengan seluruh kemampuannya. Adapun orang yang ceroboh dan kacau dalam perilaku dan tindak tanduknya, maka sesungguhnya ia memeriksa dan menghindar darinya, hal itu apabila para pengemban dakwah kepada Allah adalah di antara mereka yang marah karena dirinya sendiri dan mengikuti setiap hasratnya, mengikuti setiap hal yang membangkitkan amarahnya tanpa perhitungan akan hasil dan akibat-akibatnya, lalu manusia tidak akan menerima dan tidak akan melindungi mereka, maka kegiatan amal Islami akan rugi dengan hal tersebut dari ketiadaan penolong dan pelindungnya.

2. Bercerai-Berai Dan Berkelompok-Kelompok.
Pengaruh kedua terhadap kegiatan amal Islami akibat amarah yaitu bercerai-berai dan berkelompok-kelompok. Hal itu karena amarah untuk kepentingan pribadi maksudnya bahwa amalnya ditujukan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan setiap hal yang serupa, maka jangan diharapkan darinya timbul rasa saling cinta, atau saling menyatu, namun sebaliknya akan menjadi bercerai-berai dan berkelompok-kelompok.

3. Panjangnya Jalan Dan Banyaknya Beban.
Pengaruh terakhir dari amarah terhadap kegiatan amal Islami adalah panjangnya jalan dan banyaknya beban, ini adalah hal yang alami, karena sesungguhnya penolong dan pelindung yang sedikit bersamaan dengan menyebarnya sikap bercerai-berai dan berkelompok-kelompok akan berakhir dengan pasti pada panjangnya jalan dan banyaknya beban

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]
_______
Footnote
[1]. Ash-Shahiihah (no. 354).
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (II/175), al-‘Iraqi berkata: “Isnadnya hasan sebagaimana terdapat dalam al-Mughni ‘an Hamlil Asfaari fil Asfaari.

Sumber : Disini

Advertisements